| Home | Energy Profile | Members | Blogs | Photos | Cell Groups | Kolom Iklan | Events | Polls | Forums | Articles |
Articles
Articles
Pertanyaan
ini sebetulnya mencerminkan kebiasaan orang kita yang selalu dilakukan
dari dulu sampai sekarang, yaitu membeli mata uang asing. Memang, kalau
selama ini kita mengenal rupiah sebagai mata uang utama untuk menabung.
Tapi tetap saja orang menoleh ke mata uang asing sebagai alternatif
untuk bisa dibeli dan ditabung. Dan dolar, adalah salah satu mata uang
yang paling sering dijadikan pilihan. Dalam hal ini, tentu saja dolar
Amerika.
Menariknya,
alasan orang membeli dolar bermacam-macam. Salah satunya, katanya,
nilai uang kita turun terus. Sehingga kalau bisa, kita jangan terus
pegang rupiah. Benarkah alasan ini? Tunggu dulu, yang dimaksud nilai
uang kita turun terus mungkin adalah harga barang dan jasa di Indonesia
yang terus mengalami kenaikan. Contohnya, kalau dulu harga barang Rp 10
ribu, sekarang mungkin Rp 12 ribu, dan tahun jadi Rp 15 ribu. Dari segi
kenaikan harga barang memang betul. Tapi, kan, nilai dolar belum tentu
juga naik terus? Kalau dulu harga dolar pernah Rp 2.500, lalu naik jadi
Rp 5.000, 7.000, 9.000, bahkan pernah sampai Rp 15.000, itu kan karena
ada krisis? Belum tentu krisis akan ada lagi. Sekarang, harga dolar
malah turun lagi jadi sekitar Rp 9.000. Jadi, jangan beli dolar hanya
karena takut harga barang di Indonesia naik terus. Tapi, belilah dolar
untuk berjaga-jaga kalau ada apa-apa. Biasanya,
keinginan membeli dolar akan lebih banyak muncul, salah satunya, kalau
suhu politik mulai memanas. Contohnya, waktu mau Pemilu. Biasanya,
setiap kali menjelang pemilu, suhu politik kita akan naik. Nah, di
sinilah orang mulai banyak membeli dolar karena alasan keamanan.
Artinya, mereka merasa bahwa keadaan di Indonesia mulai tidak aman.
Lalu, mulailah mereka memborong dolar. Akibatnya, harga dolar naik.
Sebaliknya, kalau keadaan negara stabil, adem-ayem, tentram, dan damai,
biasanya harga dolar juga akan stabil. Malah cenderung turun. Maklum,
keadaan yang tenang membuat orang percaya dengan rupiah, sehingga lebih
sedikit orang yang beli dolar. Jadilah harga dolar turun. Sekarang
apakah Anda sebaiknya membeli dolar? Kalau untuk jaga-jaga, silakan
saja. Karena situasi negara kita saat ini pun belum bisa dibilang sudah
betul-betul aman dan stabil. Yang perlu diingat, jangan masukkan semua
uang Anda dalam dolar. Setengahnya saja sudah cukup. Nah, kalau Anda
mau beli dolar, di bawah ini ada sejumlah hal yang harus Anda
perhatikan agar Anda tidak malah tergelincir. 1. Belilah dolar di pedagang yang resmi 2. Jangan pernah lama-lama memegang uang dolar kertas Memang
saat kita setor terkadang biaya selisih kursnya merugikan Anda. Tapi
saya pikir, kerugian karena selisih kurs masih lebih mendinglah
daripada kerugian akibat peribahan fisik dolar. Lama-lama, bisa-bisa
uang dolar Anda malah tidak dihargai sama sekali kalau bentuk fisiknya
betul-betul rusak. Kalau disetor ke bank, uang dolar Anda akan tercatat
di sistem akuntansi mereka, bukan dalam bentuk fisik. Selain itu, juga
dapat bunga. Lumayan, kan? Jawabannya
adalah pada kurs jual. Artinya, kurs jual adalah kurs di mana bank
bersedia menjual dolarnya. Sebaliknya, kurs beli adalah kurs di mana
bank bersedia membeli dolar yang Anda punya. Anda harus selalu melihat
dan mengartikan besarnya kurs dari sisi mereka, bukan dari sisi Anda.
Bukan sebaliknya. Nah, selamat membeli dolar. [diambil dari jawaban.com]
Masih
bingung? Begini, kalau Anda perhatikan, harga dolar di Indonesia
menganut sistem mengambang bebas. Artinya, harga dolar betul-betul
"diserahkan" kepada tawar-menawar di pasar. Kalau yang mau beli dolar
lebih banyak, biasanya harganya akan naik. Tapi kalau yang mau beli
dolar lebih sedikit daripada yang ingin menjualnya, bisa-bisa harga
dolar turun.
Salah
satu hal yang paling ditakutkan orang ketika membeli dolar adalah
mendapatkan uang dolar palsu. Nah, salah satu cara menghindari
kemungkinan tersebut adalah dengan membelinya ke penjual resmi, seperti
bank atau money changer. Memang, bank atau money changer sekalipun bisa
saja menjual dolar palsu kepada Anda. Tapi tentu mereka punya
kepentingan supaya Anda mau selalu balik ke tempat mereka dan jadi
pelanggan. Artinya, mereka juga menjaga reputasi. Kalau sampai satu
pelanggan kecewa lalu nama mereka masuk ke dalam Surat Pembaca di
koran? Wah, bisa jadi iklan buruk buat mereka. Sekarang, bandingkan
dengan penjual dolar perorangan dan tidak resmi yang umumnya tidak
punya reputasi yang sudah dibangun sehingga biasanya juga tidak
memiliki kepentingan untuk menjaga reputasinya.
Kenapa
demikian? Karena perubahan fisik sedikit saja pada uang dolar Anda bisa
membuatnya dihargai lebih rendah dari yang seharusnya. Pernah suatu
hari saya dan istri saya mendapatkan dolar Amerika kertas dari seorang
teman. Jumlahnya 200 dolar. Kami mendapatkannya dalam empat lembaran 50
dolar. Kursnya waktu itu sekitar Rp 9.100 per dolarnya. Ketika hendak
menjual ke money changer, ada selembar yang fisiknya agak kuning.
Langsung saja staf di sana mengatakan dia tidak mau membeli dolar saya
seharga Rp 9.100, melainkan harus dipotong Rp 50. Ini berarti, untuk
satu lembar 50 dolar itu, saya rugi Rp 50 per dolarnya. Saya pikir,
untunglah cuma selembar saja yang bentuk fisiknya kuning. Kalau
semuanya, wah... Jadi, sekali lagi, jangan terlalu lama menahan uang
kertas dolar. Lebih baik selekasnya Anda simpan di safe deposit box,
atau setorkan saja ke bank.
3. Ketahui arti istilah Kurs Beli dan Kurs Jual
Banyak
dari kita yang masih salah mengartikan (atau sering tertukar pada arti)
kurs beli dan kurs jual pada tempat jual beli dolar. Oke, andaikan saja
Anda datang ke bank. Kemudian di situ terdapat tulisan kurs beli
sebesar Rp 9.000 dan kurs jual Rp 9100. Pertanyaannya sekarang, kalau
Anda ingin membeli dolar, pada harga berapa Anda akan membeli dolar
tersebut?
