| Home | Energy Profile | Members | Blogs | Photos | Cell Groups | Kolom Iklan | Events | Polls | Forums | Articles |
Articles
Articles
Bacaan: Efesus 6:5-9
dan yang rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia.- Efesus 6:7
Meski akhirnya tak menjadi orang Kristen, Gandhi sangat respek dengan ajaran Kristus. Salah satu tulisannya yang terkenal adalah ini : Ketika, mencelupkan
tangan kita ke dalam semangkuk air. Atau mengibas bara api. Atau menyusun tabulasi kolom angka-angka yang rinci pada pembukuan kita. Atau di bawah sengatan matahari, menceburkan diri di sawah. Atau berdiri di samping tungku cetakan. Kalau kita tidak melakukannya sebagai wujud kehidupan relijius yang
sama seolah-oleh sedang berdoa dalam sebuah biara, dunia tidak akan pernah diselamatkan. Menurut Anda, apakah profesi yang paling mulia itu? Dengan cepat pikiran kita langsung membayangkan sosok pendeta, pastur atau rohaniwan. Setingkat berada di bawahnya adalah dokter, guru, perawat atau mereka yang bekerja dalam dunia sosial. Lalu dibawahnya lagi ada pengusaha, eksekutif, musikus, dll. Barangkali menjadi politikus akan berada di urutan paling bawah. Tetapi apakah benar, setiap pekerjaan memiliki derajat atau tingkatan mulia seperti itu? Apakah benar profesi sebagai seorang rohaniwan lebih mulia
dibandingkan dengan seorang petani sederhana? Apakah benar menjadi seorang pelayan Tuhan lebih mulia dibandingkan dengan politikus? Tentu saja tidak
seperti itu. Semua profesi adalah mulia, termasuk menjadi seorang politikus sekalipun, meski dunia politik seringkali menjadi sorotan miring. Mulia atau tidak, bukan ditentukan oleh apa profesi kita, melainkan ditentukan sebesar apa kita menganggap bahwa semua pekerjaan itu adalah pelayanan di
hadapan Tuhan. Tidak ada pekerjaan yang tidak bermakna, jika pekerjaan itu dilakukan seolah-olah untuk Tuhan. Itu sebabnya apapun tugas dan pekerjaan yang akan kita hadapi sepanjang hari ini, biarlah kita mengerjakannya dengan sungguh-sungguh seperti halnya ketika kita beribadah di gereja, melakukan seolah-olah untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Mulia atau tidak, bukan ditentukan profesi kita, melainkan ditentukan oleh sebesar apa kita melakukannya seolah-olah untuk Tuhan.
